Jemaah Umrah Depresi ‘Dikurung’ di Hotel, Dibebani Biaya Karantina
Khas

Jemaah Umrah Depresi ‘Dikurung’ di Hotel, Dibebani Biaya Karantina

SHAH ALAM – Sepasang suami istri yang baru saja pulang dari menunaikan umrah pada 6 Januari lalu diterpa masalah biaya akomodasi di sebuah hotel mahal di Kuala Lumpur.

Bahkan, Abdullah Tahir Salleh, 68, juga mengaku seolah-olah dikurung di dalam gedung tanpa henti.

Abdullah Tahir dinyatakan positif Covid-19 pada 11 Januari setelah kembali dari Makkah dan saat ini menjalani masa karantina di hotel tersebut.

Mantan Anggota Redaksi Utusan Malaysia ini pernah mendapat informasi akan dipindahkan ke Pusat Perawatan dan Karantina Covid-19 (PKRC) di MAEPS, Serdang atau RS Sungai Buloh untuk penanganan lebih lanjut.

Namun, kata dia, hingga saat ini masih berada di hotel karena dokter yang merawatnya menginformasikan bahwa PKRC sudah penuh.

Yang lebih mengkhawatirkan, katanya, dokter mengatakan kepadanya bahwa dia akan dibawa ke PKRC hanya ketika kondisi kesehatannya memburuk.

“Sampai sekarang belum ada yang datang menjenguk saya di ruang karantina. Bahkan saya tidak diberi obat apapun meskipun saya menderita diabetes dan tekanan darah tinggi.

“Dokter memberitahu saya bahwa mereka akan menunggu saya sampai saya sakit, kemudian mereka akan membawa saya ke rumah sakit untuk perawatan.

“Saya kaget ketika diberitahu itu. Kalau begini saya akan mati di sini karena harus menunggu sampai kritis,” ujarnya kepada Sinar Harian, Jumat.

Sementara itu, Abdullah Tahir harus membayar RM500 sehari untuk akomodasi hotel dengan istrinya dan sejauh ini RM3,200 telah dihabiskan.

Namun, karena situasi tersebut, masa karantina di hotel diperpanjang tanpa pemberitahuan batas waktu untuk meninggalkan tempat tersebut.

“Saya punya istri, jadi saya harus membayar RM500 sehari. Bayangkan sampai kapan Anda harus membayar. Saat ini saya tidak punya uang. Masa karantina seharusnya berakhir pada hari Kamis, tetapi mereka menahan saya sampai saya tidak tahu kapan.

“Kami mendesak Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) dan menterinya, Khairy Jamaluddin Abu Bakar untuk segera mengambil tindakan. Kalau tidak, banyak pasien yang akan meninggal atau mengalami kesulitan nantinya,” ujarnya.

Dalam perkembangan lain, istrinya, Jawaher Daud, 63, tidak terinfeksi Covid-19, namun tetap harus menjalani karantina di hotel meski masa karantinanya berakhir pada Rabu.

Bahkan, dia khawatir dengan kondisi suaminya yang tidak terkendali dan tertekan dan sering meneleponnya setiap 30 menit karena tidak ada dokter untuk memeriksa kondisinya di kamar.

“Kondisi kamar suami saya tidak nyaman. Seprai dan handuk tidak diganti, bahkan air minum harus dibeli sendiri. Bayangkan saja, menurut saya orang yang negatif pun bisa menjadi positif Covid-19. Sudahlah jendelanya tidak bisa dibuka.

‘Kami seperti duduk di penjara, sesak napas. Suami bilang dia bisa mati seperti ini. Ia mempertanyakan dokter yang merawat jemaah di sini karena tidak dikirim ke PKRC di MAEPS.

“Dokter bilang sudah kirim nama (suaminya) ke pesta, tapi diberitahu tempat sudah penuh,” katanya.

Lebih lanjut, Jawaher merasa tertekan dengan situasi saat ini dan ingin keluar dari hotel karena tidak mampu lagi membayar biaya karantina.

“Aku tidak tahu cerita seperti apa yang harus kuceritakan, aku khawatir ada alasan untuk hidup sendiri.

“Tanya Khairy Jamaluddin banget, dengerin rintihan kita. Kami tidak mau pulang, tapi kami ingin keluar dari sini karena tidak mampu membayar (biaya akomodasi),” ujarnya.

Posted By : pengeluaran hk hari ini 2021 live tercepat